Hot Best Seller

Fantasy

Availability: Ready to download

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya. Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.


Compare

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya. Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.

30 review for Fantasy

  1. 5 out of 5

    ijul (yuliyono)

    A Classic Triangle Love Story... WOW. Legit! This is such a pleasant read. Mungkin beginilah rasanya ketika membaca sebuah buku tanpa mematok harapan pada ketinggian tertentu. Kejutan-kejutan menyenangkan muncul di sana-sini, memberikan suntikan motivasi yang berlebih untuk terus dan terus membaca hingga halaman terakhirnya. Saya bisa bilang novel ini page-turner banget. Sekali larut, maka akan terhanyut. Buat saya, secara umum rasa dari novel ini memang tidak mencitrakan metropop yang glamor atau A Classic Triangle Love Story... WOW. Legit! This is such a pleasant read. Mungkin beginilah rasanya ketika membaca sebuah buku tanpa mematok harapan pada ketinggian tertentu. Kejutan-kejutan menyenangkan muncul di sana-sini, memberikan suntikan motivasi yang berlebih untuk terus dan terus membaca hingga halaman terakhirnya. Saya bisa bilang novel ini page-turner banget. Sekali larut, maka akan terhanyut. Buat saya, secara umum rasa dari novel ini memang tidak mencitrakan metropop yang glamor atau kompleks selayaknya urusan kaum urban pada kebanyakan novel metropop yang sudah saya baca. Bukan menyuguhkan drama perkantoran penuh intrik atau konflik asmara dan karier para eksekutif muda, Fantasy justru menghadirkan kisah cinta segitiga yang tak berujung dalam balutan alunan musik klasik yang mendebarkan. Dengan beberapa bagian beralur maju-mundur, perjalanan asmara tiga tokoh utamanya yakni Davina-Awang-Armitha diceritakan sudah terjalin sejak SMA sampai fase-fase dewasa dalam proses pencapaian impian masa kecil. Buat kamu yang menyukai musik klasik, khususnya yang dimainkan dengan piano, dan kamu sudah familier dengan nama-nama semacam Beethoven, Mozart, Rachmaninoff, Johannes Brahms, Clara Schumann, dan nama-nama besar pianis top dunia lainnya, maka kamu akan dengan mudah juga untuk jatuh hati pada novel ini. Sedangkan buat saya yang buta sama sekali dengan musik klasik, novel ini berhasil membuka wawasan permusikan saya, sehingga bisa mendorong saya untuk mengenal dan mendengar lebih sering musik klasik. Beberapa komposisi musik klasik populer, kebanyakan dari Beethoven dan Mozart, ditampilkan dengan penjelasan lengkap di catatan kaki. Sangat menarik dan mencerahkan. Saya, sih, tidak merasa bosan. Saya justru bersyukur tak perlu harus meng-goggling segala. Selain itu, novel ini juga mendeskripsikan kota-kota lain di luar Surabaya (setting lokal di Indonesia), misalnya Wina dan Salzburg di Austria, Tokyo di Jepang, sampai Berlin di Jerman, meskipun tidak secara mendetail. Melalui perjalanan karier musik Awang-Armitha, pembaca diajak berkeliling dunia. Dengan diksi yang luwes serta plot yang rapi, Fantasy berhasil menyeret saya masuk ke simpul rumit cinta segitiga antara Davina-Awang-Armitha. Meskipun demikian, ada kalanya saya merasa di beberapa bagian pace-nya cenderung lambat dan berpotensi menimbulkan kebosanan. Lagi-lagi, saya mesti mengacungkan dua jempol untuk pengarang (dan editornya) yang sudah menyajikan kalimat demi kalimat yang efektif dan mengalir lancar. Oiya, novel ini dibagi menjadi tiga bagian yang dibedakan dari waktu serta menggunakan sudut pandang orang pertama, bergantian antara Davina dan Armitha. Dari segi konflik ceritanya, sebenarnya saya agak kurang sreg pada beberapa bagian. Entah saya yang sangking terhanyutnya jadi terlupa detail bagian itu atau memang ada yang bolong saya agak ragu. 1. Di halaman awal, Awang terkesan bad boy yang ke mana-mana dikuntit sidekick-nya, layaknya Draco Malfoy di serial Harry Potter. Tetapi, pada adegan-adegan berikutnya, citra itu langsung hilang. Bahkan, Awang terasa agak soliter alias tak memiliki teman selain Davina dan Armitha. 2. Chemistry hadirnya cinta pertama Armitha pada Awang tidak saya temukan. Tiba-tiba saja pada bagian kedua novel ini, Armitha begitu memuja Awang padahal di awal justru Armitha cuek tak keruan. Memang ada sedikit penjelasan di belakang, tapi tetap saja tak bisa meyakinkan saya bahwa ada senyawa kimia yang menggelegak antara Armitha dan Awang. 3. Perjumpaan Davina dengan Awang untuk kali pertama (di Tokyo) setelah delapan tahun tak pernah berkomunikasi terasa hambar dan kurang gereget. 4. Keterlibatan orangtua sangat minim dalam perjalanan hidup ketiga tokoh utamanya. Sempat disinggung, tapi tidak dijelaskan secara spesifik. Awalnya, saya pun hendak mempermasalahkan sikap Awang yang plinplan. Secara dia sudah dewasa dan berani mengambil risiko (keluar dari zona nyaman) sejak lulus SMA, masak iya masih bersikap labil juga. Di satu sisi mengaku jatuh cinta pada Davina, tapi di sisi lain terkesan memberi harapan pada Armitha. Nyatanya, itulah salah satu skenario apik yang disusun oleh Novellina. Ada alasan khusus di balik sikap Awang yang plinplan itu. Kamu harus baca sampai tuntas untuk mencari tahu jawabannya, ya. Secara teknis, masih ada beberapa typo yang lolos dari kerlingan proofreader dan editor-nya, seperti kurangnya tanda titik pada beberapa dialog (contoh hlm 135), kebanggan - kebanggaan (hlm 140), keterjutanku - keterkejutanku (hlm 174), dan perasaannnya - perasaannya (hlm 280). Tak signifikan, sih. Sedangkan dari suntingan, tak masalah. Hanya satu kalimat yang saya enggak mudheng sampai sekarang (hlm 253): Meskipun terkenal sebagai pianis yang sangat berpengaruh di abad 21, Jean juga memiliki beberapa komposisi yang dijadikan literatur di sekolah musik. Itu mengapa menggunakan kata hubung "meskipun" ya? Bukankah kedua anak kalimat itu saling mendukung, bukan berlawanan? Maksudnya ketika menjadi pianis paling berpengaruh, maka bukan hal yang mengherankan jika komposisi karyanya bakal jadi literatur sekolah musik, kan? Atau bagaimana? Hehehe... Bagaimanapun, saya menyukai novel ini. Meskipun tak bercita rasa metropop, mungkin lebih tepatnya sejenis novel young adult, kali ya, namun Fantasy mampu membuat saya betah membacanya hingga tuntas. Serasa tak ada yang sia-sia dari setiap kalimat yang dituliskan dalam novel ini. Beberapa kalimat favorit saya: Aku sedih saat kalian berdua berhenti mengontakku karena kalianlah alasan aku mengejar impianku. Seseorang perlu orang lain untuk mendukungnya, betapa pun besar bakatnya." (hlm. 260) Yang lucu adalah kita tidak memerlukan kesempurnaan untuk hidup bahagia, namun kita terus mencarinya bahkan rela mengorbankan jati diri untuk itu. Padahal yang dibutuhkan hanya satu, percaya. (hlm. 261) Awang: "Kamu tahu mengapa manusia begitu suka sulap?" Davina: "Karena sebenarnya manusia lebih suka ditipu?" Awang: "Benar juga." Davina: "Berarti ada jawaban lain yang lebih benar?" Awang: "Karena manusia hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Dia tidak sadar bahwa bukan mata yang menipu, karena mata hanyalah alat, pikiran kita sendirilah yang menipu penglihatan kita." (hlm. 269-270) Selalu ada yang bersalah dalam setiap kejadian buruk. Pilihannya, salahkan orang lain, atau salahkan dirimu sendiri. (hlm. 301) Kamu adalah musikku, alasan musikku terlahir di dunia ini. (hlm. 308) Selamat membaca, tweemans. My rating: 3,5 out of 5 star.

  2. 4 out of 5

    Caca Venthine

    butuh waktu lama buat nyelesain nih novel.. ya 2 minggu lebih adalah yaa. ceritanya bikin bete dan malesin banget bacanya, sorry. tentang cinta segitiga antara Vina, Mitha dan Awang.. Vina dan Mitha bersahabat, dan mereka sama2 menyukai Awang. Mitha dan Awang sama2 menyukai piano dan mengejar mimpi mereka. gk ngerti juga kenapa tiba2 Mitha lumpuh tapi nyalahin Vina. duh ceritanya bertele2 banget, bosenin banget. yang bikin gue suka cuma pas bagian mereka maenin piano2 doang, lainnya mah biasa aja. butuh waktu lama buat nyelesain nih novel.. ya 2 minggu lebih adalah yaa. ceritanya bikin bete dan malesin banget bacanya, sorry. tentang cinta segitiga antara Vina, Mitha dan Awang.. Vina dan Mitha bersahabat, dan mereka sama2 menyukai Awang. Mitha dan Awang sama2 menyukai piano dan mengejar mimpi mereka. gk ngerti juga kenapa tiba2 Mitha lumpuh tapi nyalahin Vina. duh ceritanya bertele2 banget, bosenin banget. yang bikin gue suka cuma pas bagian mereka maenin piano2 doang, lainnya mah biasa aja. dan gue dapetin novel ini yang halamannya terbalik, 20 halaman terakhir halamannya moncang mencong. jadilah makin tambah sebel aja. ternyata penerbit sebesar gramedia gk lepas dr kesalahan seperti ini ya.. ini sih masih wajar, yg agak gk wajar mah kalo banyak typo. akhir kaya, gue ngerasa kalo cerita ini agak malancong dari Metropop deh :p

  3. 5 out of 5

    Cindy Pricilla

    Sebal sama sikap Awang *hiiih* Overall, I really like this book and the story of the characters.

  4. 5 out of 5

    Marista yunis

    Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selam mereka selalu melangkah untuk meraihnya. Love doesn’t conquer all, faith does. Seperti yang tertulis dalam blurb dibagian belakang novel, buku ini bercerita tentang Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selam mereka selalu melangkah untuk meraihnya. Love doesn’t conquer all, faith does. Seperti yang tertulis dalam blurb dibagian belakang novel, buku ini bercerita tentang persahabatan antara dua orang perempuan dan seorang pria. Disini digambarkan dari POV 1 dengan Davina dan Armitha sbgai penceritanya… Davina, cewek yang selalu berpikiran positif terhadap siapapun. Sangat menyayangi sahabatnya Armitha, meskipun berasal dari keluarga yg tidak baagia, tetapi Davina memiliki sifat yang sangat menyenangkan. Rela berkorban untuk orang yang disayanginya, meskipun harus mengorbankan cinta dan kebahagiaannya bersama sang kekasih… Armitha, sahabat Davina yang merasa kalau Davina sangat beruntung dan memiliki kehidupan yang sempurna. Armitha yang ambisius merasa apa yang diinginkannya selalu bisa diraih Davina dengan lebih mudah, termasuk tentang cinta. Sampai pada suatu ketika pristiwa yang mengubah mimpi Armitha membuat dia menampakan sisi lainnya kepada Davina dan orang sekitarnya. Tanpa sadar Armitha melukai orang-orang disekitarnya untuk ambisinya. Awang adalah seorang pria yang perhatian terhadap kekasih dan sahabatnya, namun justru hal ini yang membuat perhatiannya disalah artikan. Novel ini sangat mengaduk emosi, diawal saya merasa dialog antara Davina-Awang terlalu “tua” untuk dilakukan anak SMA, tapi tetap tidak mengurangi keindahan ceritanya. Sebagai pembaca saya merasa Davina ini merupakan tokoh favorit, dengan sifatnya yang selalu positif dalam memandang suatu masalah, sampai kepada satu sisi yang menyadarkan pembaca bahwa ternyata Davina juga “masih manusia”. Sedangkan untuk Armitha, diawal saya merasa sifat yang digambarkan wajar untuk Armitha tetapi semakin ke belakang, semakin menjengkelkan dan sedikit keterlaluan. Dan Awang dengan sikapnya yang terasa “ambigu” semakin membuat perasaan pembaca ikut teraduk… Saat membaca novel ini saya menyadari bahwa saya ikut “mengumpat” saat ada adegan yang menjengkelkan, ikut “senyum-senyum” saat adegan bahagia, hingga pada akhir cerita saya memutuskan ini akan menjadi salah satu ovel favorit saya. Konflik, penyelesaian dan kisah cinta yang manis, tidak berlebihan tetapi berkesan. Itulah Fantasy… Beberapa quotes dalam Fantasy: “Sesungguhnya kau tidak tahu apa yang membuatku rindu, namun yang pasti aku kesepian jika tidak ada kamu” (hal. 46) “… It’s just boom and happen. Seperti menemukan senyawa yang tepat untuk membentuk reaksi kimia. Aku tidak tahu alasannya, namun aku sangat nyaman berada disamping kamu.” (hal. 47) “Kebanyakan cewek selalu menanyakan alas an mengapa cowok menyukainya. Mungkin untuk meyakinkan diri merekan bahwa mereka tidak memilih cowok yang salah.” (hal. 48) “Bagiku, tahun ini ataupun tahun depan tidak aka nada bedanya. Aku tidak bisa menjamin tahun depan aku akan lebih siap melepasmu.” Kataku akhirnya. “Aku tidak sanggup menahan perasaan seperti ini lagi tahun depan. Kalau kamu pergi sekarang…” Aku terdiam. Air mataku jatuh juga akhirnya “Kalau kamu pergi sekarang, aku akan menjadi kuat tahun depan, atau mungkin minggu depan?” (hal. 114) Kenapa ia tidak bisa menjadi manusia yang lebih sederhana? If you sad, cry. If you happy, laugh. Bukan malah menutupinya, mencoba menjadi setegar karang meskipun hatinya hancur seperti butiran pasir. (hal. 121) “Because I love him so much and it hurts” katanya tenang. “Aku akhirnya menyadari bahwa aku harus mundur karena cintaku terlalu dalam. Karena hal itu tidak hanya akan menyakiti diriku sendiri tapi juga akan menjadi beban bagi Awang.” Vina menarik napas dalam-dalam. “Bagiku, mencintai Awang berarti aku juga harus menjadi orang yang layak dicintainya, mendukungnya, berlari mensejajarkan langkahku dengannya, bukan menjadi orang yang menahannya atas nama cinta.” (hal. 126) “Apakah kamu sanggup memaafkanku jika aku menahanmu dari mimpimu? Aku tidak ingin ketika dia melihatku, yang dia ingat adalah mimpinya yang hancur. Aku tidak ingin menjadi reminder itu dan melihat kebahagiaan hilang dari matanya tiap kali dia melihatku.” (hal. 126) “Ada satu titik dalam hidupku saat aku merasa sangat takut kehilangan Awang. Rasa takut itu begitu asing bagiku. Tidak hanya memenjarakanku, namun Awang juga. Tapi aku sadar aku harus melawan ketakutan itu. Membiarkan diriku menjadi diriku sendiri dan Awang menjadi dirinya. Saat itulah ketakutan itu hilang dan aku menjadi utuh kembali. Merantai kaki seseorang karena ketakutan itu bukanlah cinta melainkan keegoisan.” (hal. 126) Aku mencintainya melebihi diriku sendiri, dan begitupun ia. Karena kami ingin menunjukkan satu sama lain betapa kuatnya cinta kami, kami akhirnya terpisah. (hal. 134) “Jangan tersenyum seperti itu,” katanya tiba-tiba. Senyum dibibirku langsung lenyap. “Senyummu membuat jantungku sakit, mengingat beberapa tahun ini aku tidak lagi terlatih menghadap sport jantung.” (hal. 146) That’s why Folks said, don’t trap yourself in one room with same person for more than 24 hours, unless you are well prepared to see her/his true colours. (hal. 160) Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang mudah menghitam karena setetes tinta. (hal. 216) “Mulailah percakapan mendalam dengan dirimu sendiri, apa yang sesungguhnya kamu inginkan dan definisikan ulang makna ketulusan dalam hidupmu.” (hal. 219) Aku tidak bisa menjanjikan apa pun yang tidak bisa kujamin akan kupenuhi. (hal. 223) “Sederhana, karena kamu sangat berbakat, dan aku sangat percaya bakatmu jauh lebih besar daripada kekuranganmu. Tuhan memercayakanmu bakat yang begitu besar sehingga Dia tidak akan berhenti mengujimu…” (hal. 260) “Karena manusia hanya melihat apa yang igin ia lihat. Dia tidak sadar bahwa bukan mata yang menipu, karena mata hanyalah alat, pikiran kita sendirilah yang menipu penglihatan kita. Begitu juga dengan keajaiban, manusia mana yang tak pernah mengharapkan keajaiban? Mereka berpkir bahwa hidup akan semudah sulap, simsalabim mimpi terwujud dihadapan mata kemudian hidup akan berubah drastic. Namun kaki mereka tak pernah mau meangkah untuk mendekati mimpi mereka.” “Manusia hanya peduli pada tujuan, bukan proses…” “Tidak semua. Ada beberapa orang yang memilih untuk tidak menginginkan apa pun. Bukan karena dia telah memiliki segalanya, namun karena dia takut jika nanti memilkinya, dia akan terluka saat kehilangan. Saat itulah adalah ketika manusia terjebak pada lingkaran kenyamanan yang ia ciptakan sendiri. Dia tidak ingin melangkah keluar karena takut perisanya akan terkoyak.” “Ada alasan mengapa orang menyebutnya comfort zone, right? If there is comfort,why would we leave it?” (hal. 270) “Kamu tahu aku akan melakukannya untukmu, meskipun mulutku mengatakan untuk mitha atau diriku sendiri.” (HAL. 272) “Seandainya kamu mengerti, Vin. Pengorbanan yang sesungguhnya bukan ketika kamu melepaskan Awang delapan tahun yang lalu, tapi saat Awang berjuang menolak perasaannya terhadapku karena hatinya sedang kamu pegang erat-erat dalam rasa bersalah. Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakahbisa bersamamu lagi. Saat kamu memutuskan pergi, maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya. Jangan berani-beraninya kamu kembali.” I may not be able to forget him, but I am able to move on now. “Bagaimana kalau itu takdir? Gak peduli siapa yang nyetir, in the end you’d still be injured? Why don’t you see the accident as a process to make you stronger, make you know yourself better.” “Sejak awal hingga detik ini aku ada dihadapanmu, aku masih dan selalu mencintai gadis yang sama.” Baca novel ini!!!

  5. 4 out of 5

    Acipa

    Judul: Fantasy Penulis: Novellina A. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 310 halaman ISBN: 978-602-030-355-0 Rating: --- Kisah dimulai dari keinginan Awang untuk mengenal Armitha melalui Davina. Bagi Awang, akan lebih mudah mengenal sosok perempuan judes itu dari sahabatnya. Maka, dimulailah perkenalan seorang cowok SMA yang cukup populer itu dengan dua siswi SMA yang tergolong tidak istimewa, bahkan biasa saja. “Aku hanya mengetahui perasaanku dan berusaha jujur pada diriku sendiri. Tak perlu Judul: Fantasy Penulis: Novellina A. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 310 halaman ISBN: 978-602-030-355-0 Rating: ★★★★★ --- Kisah dimulai dari keinginan Awang untuk mengenal Armitha melalui Davina. Bagi Awang, akan lebih mudah mengenal sosok perempuan judes itu dari sahabatnya. Maka, dimulailah perkenalan seorang cowok SMA yang cukup populer itu dengan dua siswi SMA yang tergolong tidak istimewa, bahkan biasa saja. “Aku hanya mengetahui perasaanku dan berusaha jujur pada diriku sendiri. Tak perlu menggali lebih dalam akar dimana perasaan itu tumbuh.” (hal. 48) Perkenalan itu malah membuat Davina dengan Awang lebih dekat daripada tujuan awal keduanya. Lambat laun, ada perasaan berbeda dari Davina, terlebih ketika ia mendengar lantunan komposisi yang Awang mainkan di perpustakaan menggunakan piano yang kabarnya sudah ada sejak zaman Belanda itu. Davina merasa jatuh hati ketika Awang sedang bermain piano saja. Namun, suatu kejadian pada akhirnya membuat mereka bisa saling jatuh hati dan kemudian berpacaran. Di sisi lain, Armitha yang awalnya sasaran kenalan Awang malah setuju saja dan mendukung hubungan antara Davina dan Awang itu, walau di lain hatinya ia merasa cemburu juga. “Because by playing piano along with his pupils, he wanted to recall himself how to enjoy music purely.” (hal. 83) Tidak hanya itu, persahabatan mereka kemudian diwarnai dengan kisah bahwa Armitha mulai tertarik untuk bermain piano. Walaupun ia adalah anak dari seorang musisi, tapi kecintaannya terhadap bermusik tidak serta merta membuatnya berlatih serius. Dan karena Awang-lah yang menjadi motivasi Armitha untuk bermain, berlatih, dan menunjukkan permainannya dalam sebuah kompetisi suatu saat nanti. “Kamu akan lebih mengetahui bagaimana perbedaannya mendengar musik dengan hati atau hanya sekadar dengan telingamu. Telinga hanyalah penerima, namun organ yang sesungguhnya bekerja adalah otak dan tentu hatimu.” (hal. 84) Armitha dan Awang punya mimpi yang sama, sama-sama ingin melanjutkan kuliah musik di Prancis. Namun, nasib nampaknya jauh lebih berpihak pada Awang karena sebelum lulus SMA pun, ia sudah ditawari beasiswa melanjutkan studinya di Tokyo. “... Bagiku, sebuah mimpi bukanlah sesuatu yang tidak penting. Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia. Aku memulai hidupku dari sebuah mimpi.” (hal. 171) “Ketika seseorang memiliki banyak mimpi namun terlalu lama berada di comfort zone, harus ada seseorang yang membantu untuk menariknya keluar bukan?” (hal. 271) Harapan itu pada akhirnya membuat Awang harus rela meninggalkan kedua sahabatnya, Davina dan Armitha. Begitupun dengan kisah cinta yang dijalani bersama Davina, Vina merasa ia tidak sanggup jika harus LDR. “... Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakah bisa bersamamu lagi. Pengorbanan bukan hanya tentang tindakanmu tapi juga perasaanmu. Saat kamu memutuskan pergi maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya.” (hal. 281) Ya, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan saat mengetahui orang yang kita cintai memberikan cinta sama besarnya dengan yang kita beri. (hal. 309) Tujuh tahun kemudian, keberanian itu muncul lagi. Davina memberanikan dirinya untuk berangkat ke Tokyo dan menemui Awang, bertemu dengannya dan menceritakan mimpi Armitha yang sempat terhenti akibat satu kecelakaan yang hampir saja membuat Armitha tidak ingin lagi bermain musik, bahkan untuk menyentuh piano sekalipun. Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru. (hal. 121) Demi memenuhi keinginan dari mantan kekasihnya itu, maka Awang menyanggupinya walau ia tahu jalan yang harus ia tempuh memang tidaklah mudah. Sejak saat itulah, perasaan hatinya dikorbankan. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, Salzburg, hingga Wina, mereka bertiga berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. Baca kisah selengkapnya dalam Fantasy. “Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does.” (hal. 127) *** Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang akan mudah menghitam karena setetes tinta. Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki. (hal. 216) Seingatku, ini adalah Metropop pertama yang aku baca terbitan GPU. Seingatku juga, lini Metropop memang masih baru, atau mungkin aku yang terlalu telat pergaulan. Sejauh ini, karena memang baru membaca satu buku dari lini Metropop, maka bukan nggak mungkin kalau aku bilang buku ini keren. Bagiku mencintai seseorang adalah memilikinya, berada di dekatnya, bukan melepaskannya hanya karena tidak ingin menjadi beban bagi orang itu. There is no burden in love, because love is always selfish. (hal. 126) Cerita tentang bagaimana si tokoh berusaha menggapai mimpinya memang sudah banyak beredar di pasaran, tapi cerita tentang perjuangan yang kemudian dikaitkan dengan cerita musik klasik bahkan sampai ke negara asalnya—seperti Wina, Salzburg, Paris, dll—menurutku masih jarang ditemui. Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Ketika tidak ada keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa akan ada hari esok, yang jauh lebih baik daripada hari ini. (hal. 133) Aku suka latar yang ditulis Kak Novellina, dimulai dari cerita SMA sekitar tahun 2005 yang menjelaskan bagaimana ‘kisah dahulu’ dari ketiga sahabat ini, sampai perjalanan mereka yang membawa kita di ‘masa sekarang’, tahun 2012 dan 2013. Walaupun masa SMA-nya bisa dibilang terlalu cepat, tapi menurutku sudah cukup baik untuk menunjukkan bagaimana permulaannya. Aku sudah bilang belum kalau novel ini ditulis dari segi POV 1 dari 2 tokoh? Yap, perpindahan POV dari Davina ke Armitha juga menurutku cukup sukses dengan jelasnya karakter ‘aku’ yang dimainkan disini—selain karena di bab awal ditunjukkan siapa yang menjadi giliran ‘aku’. Sayangnya, kita nggak menemukan POV dari sudut pandang Awang, padahal kalau digali lebih lanjut lagi, mungkin kita juga bakal tahu bagaimana rasanya diperebutkan dua orang perempuan sekaligus, hehe. Perjalanan mereka yang dimulai dari satu kota ke kota lain yang berbeda negara juga menarik, seolah-olah kita benar-benar dibawa secara langsung ke kota-kota lahirnya para musisi besar dunia tersebut. Eksekusi yang lagi-lagi berhasil. Hm, someday I’ll be there and know hot it feel to be Davina, Armitha, and Awang. Good luck for me, xoxo. “You are my Fantasy in D minor, my ending from my search of happiness.” (hal. 308) by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

  6. 4 out of 5

    Fithri Malinda

    Sebelumnya aku sudah pernah mengulas buku sebelum bergabung dengan goodreads. Dan buku ini masih menjadi salah satu buku romance favorit aku. Judul : Fantasy Pengarang : Novellina A. Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun : 2014 ISBN : 978-602-03-0355-0 Halaman : 312 Sinopsis: Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk menenangkan kembali Sebelumnya aku sudah pernah mengulas buku sebelum bergabung dengan goodreads. Dan buku ini masih menjadi salah satu buku romance favorit aku. Judul : Fantasy Pengarang : Novellina A. Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun : 2014 ISBN : 978-602-03-0355-0 Halaman : 312 Sinopsis: Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk menenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya. Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. *** Pada awalnya aku ingin mengenalkan profil dari pengarang novel ini sendiri, Novellina Apsari. Sayangnya, aku tidak menemukannya dalam novel ataupun internet. Sehingga aku hanya menerka-nerka karakternya dari bagaimana ia membawakan cerita tentang Davina, Armitha, dan Awang. Pada dasarnya, Novellina terinspirasi dari sebuah dorama Jepang berjudul Nodame Cantabile. Berita bagusnya, aku juga tahu dan menyukai dorama tersebut. Di awal halaman, aku langsung disuguhkan dengan sebuah kutipan yang membuatku berpikir “iya juga ya”. “Sometimes we aren’t born to be ordinary, but the environment pushes us to be ordinary.” Singkatnya, kita semua manusia yang lahir sudah pasti memiliki kelebihan masing-masing, hanya saja lingkungan di sekitar kitalah yang membuat kelebihan tersebut tak terlihat, tak bersinar, sehingga kita menjadi common peoples. Demi Tuhan, aku sangat salut dengan bagaimana Novellina membawaku menelusuri waktu bersama Davina, Armitha, dan Awang. Novellina membawakan cerita mereka melalui dua sudut pandang, yaitu Davina dan Armitha. Davina adalah seorang gadis seperempat Belanda yang selalu cuek dengan penampilannya, yang bahkan hanya memiliki satu buah celana jeans di umurnya yang ke-16. Sifatnya begitu kritis dan ingin tahu. Rasa-rasanya kalau aku membayangkan aku berteman dengannya, mungkin aku selalu kalah debat darinya seratus persen. Dan yang paling kusuka darinya adalah she always has life with positive mind. Kata-kata yang selalu terngiang di kepalaku dan mengingatkanku pada Davina saat gadis itu sadar bahwa ia mencintai Awang. “Untuk pertama kalinya, aku melihat Awang dengan hatiku.” Kupikir itu hanyalah suatu kalimat biasa, tapi menurutku kalimat itu mengandung berjuta makna. Awang. Aku terpesona dengan karakternya sejak pertama kali ia muncul. “I read people,” ungkapnya dan itulah hal yang paling kusuka darinya. Itu juga yang membuat Awang bisa dekat dengan siapapun, karena ia mengerti apa yang mungkin sedang dipikirkan atau dirasakan oleh orang itu. Yah, selalu ada kelemahan dibalik kegeniusan seseorang, bukan? Awang selalu genius dalam musik, tapi tidak berlaku untuk pelajaran eksak. Dari tiga karakter di atas, aku paling menyukai Awang. Menurutku juga ia sudah masuk ke dalam list pria idamanku, jika ia hidup di kehidupan nyata. (LOL). Aku sangat menyukainya karena kepandaian ia dalam berkata-kata dan sejujurnya Novellina-lah yang membuat Awang pandai berkata-kata. “…Kemudian aku mengenal kamu. Kamu pasti sering membaca bahwa reaksi kimia antara pria dan wanita tidak pernah bisa dijelaskan dalam logika dan alasan. It’s just boom and happen. Seperti menemukan senyawa yang tepat untuk membentuk reaksi kimia. Aku tidak tahu alasannya, namun aku sangat nyaman berada di samping kamu.” (Awang – Hal.47) Novellina bahkan membuat Awang menyatakan perasaan layaknya ia menyatakan perasaannya kepada sahabat kebanding gadis. Aku sempat berpikir bahwa itu hanyalah ungkapan sayang Awang, tanpa meminta Vina menjadi pacar. Ternyata aku salah total! Armitha adalah gadis jutek yang penuh misteri. Begitulah menurut Awang. Aku sama sekali tidak menemukan spesifikasi yang tepat untuk Mitha. Tapi yang pasti ia adalah seorang gadis feminin yang suka memasak, menjahit, dsb. Berkebalikan dengan sahabat baiknya, Davina. Armitha adalah seorang genius dan pemimpi. Ia bermimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya. Tapi kenyataannya itu belum pernah terjadi, bahkan setelah tujuh tahun berlalu. “…Jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru…” (Armitha – Hal.121) Beberapa kutipan yang kusuka dari buku ini, adalah: “Seseorang tidak akan menyingkir dari kehidupan orang lain kecuali dia merasa jadi penghalang.” (Awang – Hal.44) “Terkadang tatapan mata mampu mengatakan sejuta kejujuran daripada yang dapat diucapkan oleh lidah.” (Awang – Hal.106) “Bersama dengan orang yang dicintai adalah kebahagiaan yang absolut.” (Armitha – Hal.126) “Merantai kaki seseorang karena ketakutan kita bukanlah cinta melainkan keegoisan.” (Davina – Hal.126) “…Love doesn’t conquer all, faith does.” (Davina – Hal.127) “…Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia. Aku memulai hidupku dari sebuah mimpi…” (Valenntina – Hal.171) “Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang mudah menghitam karena setetes tinta. Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki.” (Davina – Hal.216) “…Yang lucu adalah kita tidak memerlukan kesempurnaan untuk hidup bahagia, namun kita harus mencarinya bahkan rela mengorbankan jati diri kita untuk itu. Padahal yang dibutuhkan hanya satu, percaya…” (Awang – Hal.261) “Hidup adalah tentang bermimpi.” (Davina – Hal.284) Sebelum membaca fantasy, aku sudah bertanya terlebih dahulu bagaimana ending dari cerita ini kepada sepupuku. “How was the ending?” “Happy ending.” Tapi bagaimanapun juga, Novellina membuatku bertanya-tanya. Apakah happy ending yang dimaksud adalah happy ending untuk Davina, happy ending untuk Armitha, atau happy ending untuk keduanya? Novellina memberiku kejutan dengan twist super hebat yang selalu memacuku untuk membuka halaman selanjutnya. Dia menciptakan alur yang membuatku tidak dapat menebak bagaimana akhir ceritanya. Twist muncul di saat yang tidak terduga dan itu membuatku menikmati cerita ini sampai habis. Sekian dari ulasan yang kutulis. Terimakasih kepada Novellina Apsari yang telah membawaku mengarungi perjalanan kelilig dunia dengan perjuangan cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan. I immediately become your fans.

  7. 5 out of 5

    Imam Rahmanto

    Jika ingin sedikit-sedikit tahu tentang komposisi musik klasik Beethoven, Mozart, dan kawan-kawannya, buku ini bisa menjadi cara belajar yang menarik. Hmm...lagipula saya selalu lebih suka belajar sesuatu dari membaca kisahnya. "How to describe, not how to explain" Ceritanya, sebagaimana metropop lainnya, masih berkutat pada persoalan paling menarik remaja: cinta. Tapi, separuhnya menunjukkan bahwa penulis juga ingin menunjukkan dunia musik klasik dengan caranya sendiri. Jika dikatakan tentang Jika ingin sedikit-sedikit tahu tentang komposisi musik klasik Beethoven, Mozart, dan kawan-kawannya, buku ini bisa menjadi cara belajar yang menarik. Hmm...lagipula saya selalu lebih suka belajar sesuatu dari membaca kisahnya. "How to describe, not how to explain" Ceritanya, sebagaimana metropop lainnya, masih berkutat pada persoalan paling menarik remaja: cinta. Tapi, separuhnya menunjukkan bahwa penulis juga ingin menunjukkan dunia musik klasik dengan caranya sendiri. Jika dikatakan tentang meraih mimpi, ada beberapa bagian yang memang dengan gamblang menunjukkan ceritanya. Hanya saja, mimpi itu masih terlalu mewah bagi sebagian orang. Bukan mimpi dari orang yang biasa-biasa saja. Toh, ketiga tokoh sentralnya tergolong orang-orang berada, yang di sisi lain menunjukkan kewajaran tentang hal-hal yang dijalaninya. Saya suka cara berceritanya, yang membagi dalam dua sudut penceritaan. Saya pernah membaca yang serupa di buku lain, meski dalam porsi yang lebih singkat. Paling tidak, pembaca bisa memahami seperti apa perasaan kedua tokohnya, Davina dan Armitha, yang mencintai Awang. Ceritanya memang cukup "menggiurkan" dengan pengetahuan musik dari penulisnya. Pemgetahuan itu betapa lancar merasuki alam penceritaan tokohnya. Saya bahkan heran, sedetail itukah seorang Davina, yang bukan pianis bisa mendeskripsikan (perpindahan nada) permainan piano orang lain? Terlepas dari profesinya sebagai seorang jurnalis majalah internasional. Selain itu, penceritaannya cenderung hanya mempertontonkan tiga tokoh sentral itu. Perasaan cinta. Perasaan menunggu. Obsesi pada mimpi. Apakah dalam rentang 7 tahun lamanya, kehidupan yang mereka lalui hanya berkutat pada pikiran, "all about love"? Oh, come on! Saya tak habis pikir, bahkan untuk orang secantik Davina yang memutuskan bekerja sebagai jurnalis. Saya mengalaminya, pekerjaan jurnalis bisa dikatakan sebagai pekerjaan tersibuk yang "berhak" menyabotase segala bentuk perasaan lain. Overall, saya senang membacanya. Cukup menambah referensi baru bagi pengetahuan musik klasik saya. Ck...meskipun, seperti biasa, kisah cintanya terlalu "manis" bagi kehidupan nyata. (*) -------- "Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru." --hal.121 "There is no burden in love, because love is always selfish." --hal.126 "Merantai kaki seseorang karena ketakutan kita bukanlah cinta melainkan keegoisan." --hal.126 "Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Ketika tidak ada keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa akan ada hari esok, yang jauh lebih baik dari hari ini." --hal.133 "...mimpi bukanlah sesuatu yang tidak penting. Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia." --hal.171 "Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki." --hal.216 "Seseorang perlu orang lain untuk mendukungnya betapapun besar bakatnya." --hal.260 "Yang lucu adalah kita tidak memerlukan kesempurnaab untuk hidup bahagia, namun kita terus mencarinya bahkan rela mengorbankan jati diri untuk itu. Padahal yang dibutuhkan hanya satu, percaya." --hal.261 "Kamu tahu mengapa manusia begitu suka sulap?" "..." "Karena manusia hanya melihat apa yang ingin ia lihat. Dia tidak sadar bahwa bukan mata yang menipu, karena mata hanyalah alat. Pikiran kita sendiri lah yang menipu penglihatan kita." --hal.269-270 "Ada beberapa orang yang memilih untuk tidak menginginkan apapun. Bukan karena dia telah memiliki segalanya, namun karena dia takut jika nanti memilikinya, dia akan terluka saat kehilangan." --hal.270 "Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakah bisa bersamamu lagi. Pengorbanan bukan hanya tentang tindakanmu tapi juga perasaanmu. Saat kamu memutuskan pergi maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya. Jangan berani-berani kamu kembali." --hal.281

  8. 5 out of 5

    Khairisa Primawestri

    "Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn't conquer all, faith does." Tahun terbit: April 2014 Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Edisi: Paperback, bahasa Indonesia "Genre": Love, Interesting "Premise", Metropop, Abroad Setting Terima kasih untuk memberikan kesempatan bagi saya mengulas buku ini dan mengirimkannya, kak Dion "Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn't conquer all, faith does." Tahun terbit: April 2014 Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Edisi: Paperback, bahasa Indonesia "Genre": Love, Interesting "Premise", Metropop, Abroad Setting Terima kasih untuk memberikan kesempatan bagi saya mengulas buku ini dan mengirimkannya, kak Dion Yulianto dan kak Novellina sang author-sensei^^ Pertama-tama, harus dikatakan kalau kavernya klasik dan cantik sekali dengan warna hitam yang mendominan serta judul buku yang dicetak seolah membentuk kaligrafi dengan garis-garis partitur, lalu dengan sentuhan gambar piano dan aksen "white dusts" yang terlihat seperti serbuk peri, atau apa, yang jelas cantik deh jadinya. Kaver buku ini adalah bukti kalau desain kaver novel lokal itu sama sekali nggak kalah dengan buku-buku luar ;)), dan juga secara keseluruhan merupakan kaver yang sesuai untuk "membungkus" kisah di dalamnya yang temanya cukup agak jarang dan menarik minat saya yaitu tentang piano dan musik klasik. Ada Armitha dan Davina yang bersahabat sejak SMA, lalu hadir Awang yang mulanya meminta Davina mengenalkannya pada Armitha, lalu dari sini mungkin sudah bisa sok-sok diperkirakan bahwa akhirnya akan jatuh segitiga juga dan memang benar (maaf dan jangan goreng saya xD) - Awang dan permainan pianonya berhasil memukau Davina dan Armitha dengan cara tersendiri bagi kedua gadis itu. Namun kisah tidak terjalin hanya seputar cinta dengan mediasi piano, namun bersanding dengan tema tentang mimpi, mimpi untuk bisa meraih prestasi di bidang musik klasik bagi Awang dan Armitha, yang dengan cara masing-masing juga menyadari bahwa di piano-lah passion mereka. Perjuangan cinta dan mimpi pun tidak mudah, untuk mengejar mimpinya, Awang harus pergi ke Jepang mengambil kesempatan beasiswanya begitu lulus SMA, dan Davina serta Armitha tidak bisa mencegahnya. Kepergian Awang menyisakan "kesedihan" bagi kedua sahabat yang tetap harus melanjutkan hidup masing-masing; Armitha yang melanjutkan studi pianonya di Prancis, dan Armitha yang kuliah di... ehm, tidak dicantumkan sih, mungkin masih di Surabaya (#...). Jeda sekitar delapan tahun sedikit-banyak toh "mengubah" seseorang juga (tsah), antara lain Davina yang akhirnya sadar dan bertekad untuk memperjuangkan cinta dan mimpi dengan menemui Awang ke Jepang, lalu Armitha yang ditempa dengan ujian berat dalam jalannya menuju mimpi dan cintanya pula. Kami pernah memiliki kenangan indah dan berharap ia bisa mengingat itu meskipun sedikit. Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang akan mudah menghitam karena setetes tinta. Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki. Persahabatan, cinta, dan ketulusan pun diuji, kisah ketiganya mungkin seperti sebuah komposisi musik, memiliki klimaks sekaligus bagian akhir yang menjadi penutup, akhir seperti apakah yang terjadi dalam cinta dan mimpi di antara mereka bertiga? Ada cukup lompatan-waktu dalam penceritaan novel ini, mengingat bahwa antara pertemuan awal di SMA sampai perpisahan bertahun-tahun memang mungkin akan sangat padat jadinya, jadi penceritaan yang memakai sudut pandang bergantian antara Armitha dan Davina pun dituliskan seperti potongan-potongan peristiwa penting yang terjadi dalam bagian waktu satu tahun atau pada waktu spesifik di antara "jeda" tersebut. Cukup susah memang untuk membuat perpisahan bertahun-tahun itu sampai pada kejadian-kejadian "kini" dalam cerita yang dimaksudkan secara sesuai dengan perkembangan psikis (eheumsz) karakter-karakternya xD, namun buat saya eksekusinya cukup berhasil untuk membuat pembaca paham konflik-konflik yang dimaksudkan. Silakan baca review saya selengkapnya tentang buku ini di http://krprimawestri.blogspot.com/201...

  9. 4 out of 5

    Biondy

    Judul: Fantasy Penulis: Novellina A. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 312 halaman Terbitan: April 2014 Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara Judul: Fantasy Penulis: Novellina A. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 312 halaman Terbitan: April 2014 Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya. Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. Review Metropop yang beda banget dengan metropop lainnya. Ceritanya seru, cuma bahasa Inggrisnya kebanyakan. Bagian zaman SMA-nya terasa terlalu dewasa. Seolah-olah tokohnya di pertengahan 20-an. Review lengkap menyusul :3

  10. 4 out of 5

    April Silalahi

    aku suka cerita nya. awalnya aku sama sekali gak menjadikan Fantasy ini sebagai bacaan novel aku. entah lah, krn mgkn cerita yg diberikan ttg musik? Fantasy menghadirkan 3 tokoh utama : Awang, Mitha dan Davina. Bagaimana mereka menyukai musik klasik, bagaimana mereka saling bersahabat dan ternyata terlibat cinta segita jg. hahahahaha Aku tidak bs membayangkan betapa sweet nya Awang sebagai cowok. cerita ini benar-benar bisa aku nikmatin, walau banyak sekali istilah musik klasik di dalamnya. Kurang aku suka cerita nya. awalnya aku sama sekali gak menjadikan Fantasy ini sebagai bacaan novel aku. entah lah, krn mgkn cerita yg diberikan ttg musik? Fantasy menghadirkan 3 tokoh utama : Awang, Mitha dan Davina. Bagaimana mereka menyukai musik klasik, bagaimana mereka saling bersahabat dan ternyata terlibat cinta segita jg. hahahahaha Aku tidak bs membayangkan betapa sweet nya Awang sebagai cowok. cerita ini benar-benar bisa aku nikmatin, walau banyak sekali istilah musik klasik di dalamnya. Kurang nya buku ini hanya di latar tempat Paris yang tidak bs penulis gambarkan dengam detail. dan percakapan tokoh yg memadukan Bahasa Prancis dan Inggris secara bersama-sama. mending grammar kedua bahasa tersebut tpt. ini ngaco gitu! kayaknya lbh enak klo ttp pake Bahasa Indonesia aja. drpd salah dan buat pembaca yg ngerti mikir (serius lo, coba menampilkan secuail kalimat Bahasa Prancis tp salah???) tp itu bs tertutupi sih dengan ending yg sweet. untuk itu aku ksh 4 bintang dari 5! Selamat membaca!

  11. 5 out of 5

    Putri Kurnia Nurmala

    Awalnya datar. Membosankan. Sempat ditinggalkan barang sejenak karena cerita awal Davina, Awang dan Armitha sama dengan cerita cinta anak remaja pada umumnya. Buku ini membawa pembaca pada proses yang realistis. Alurnya lambat dan kompleksitas yang tinggi akibat percampuran friendship, love, obsession, promises and tolerance berhasil menghanyutkan perasaan. Sesak baca halaman demi halaman mulai dari masuk konflik hingga akhir. Kompleksitas dibawakan dengan sangat baik dan tidak keluar jalur. Awalnya datar. Membosankan. Sempat ditinggalkan barang sejenak karena cerita awal Davina, Awang dan Armitha sama dengan cerita cinta anak remaja pada umumnya. Buku ini membawa pembaca pada proses yang realistis. Alurnya lambat dan kompleksitas yang tinggi akibat percampuran friendship, love, obsession, promises and tolerance berhasil menghanyutkan perasaan. Sesak baca halaman demi halaman mulai dari masuk konflik hingga akhir. Kompleksitas dibawakan dengan sangat baik dan tidak keluar jalur. Karakternya begitu kuat, Davina the naive, Awang the prince and Armitha the survivor yet antagonist. Baru kali ini dibuat merasa maklum dengan peran antagonis. Penulisnya adil dengan tokoh dan tidak menitikberatkan pada satu tokoh saja. Berhubung penulisnya menyatakan ada pengaruh dari Nodame Cantabile, memang terlihat adanya pengaruh dari dorama itu di beberapa sifat dan komposisi-komposisi yang dituliskan dalam novel ini. Yet I feel these all are connected to each other. Tidak berasa tempelan. The settings are epic too.

  12. 4 out of 5

    Ieshajiwil

    .emmm, aku mulai dari mana ya untuk review novel ini .aku orang yang sangat pemilih jika membaca novel dari indonesia, makanya aku lebih suka novel terjemahan, karena kebanyakan novel indonesia bercerita tentang cinta-cinta yang itu itu saja dan mudah di tebak .sama halnya dengan sinetron, maka dari itu aku lebih suka nonton drama korea, karena dalam drama korea tidak hanya menyajikan sebuah cerita, tapi juga ilmu pengetahuan, entah dalam bidang kedokteran, makanan, lawyer, entertain, kepolisian .emmm, aku mulai dari mana ya untuk review novel ini .aku orang yang sangat pemilih jika membaca novel dari indonesia, makanya aku lebih suka novel terjemahan, karena kebanyakan novel indonesia bercerita tentang cinta-cinta yang itu itu saja dan mudah di tebak .sama halnya dengan sinetron, maka dari itu aku lebih suka nonton drama korea, karena dalam drama korea tidak hanya menyajikan sebuah cerita, tapi juga ilmu pengetahuan, entah dalam bidang kedokteran, makanan, lawyer, entertain, kepolisian dll .yaahh...aku memang bukan penulis, tapi aku penikmat sebuah tulisan, maaf jika memberi kritik berdasarkan orang awam .tapi aku memberi nilai plus untuk novel ini, karena tidak hanya menyajikan sebuah cerita, tapi juga ilmu pengetahuan .karena terkadang ada orang yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan tapi bosan membaca buku-buku ilmu pengetahuan,,,,contohnya saya :D .jadi saya sangat menghargai penulis-penulis novel yang menyuguhkan ilmu pengetahuan di dalam ceritanya .terus tingkatkan dan terima kasih :)

  13. 5 out of 5

    Ayu Prameswary

    Saya suka mendengar dan melihat dunia musik klasik, walau belum sampai taraf ingin mencari tahu atau mempelajarinya. Mungkin itu sebabnya saya yang biasanya sebal menemukan banyak footnote dalam novel, justru menikmatinya. Hal kedua yang membuat saya menyukai novel ini adalah kisah persahabatan di dalamnya. Tidak banyak novel (yang saya baca) mampu mempertahankan konsistensi porsi persahabatan hingga akhir cerita. Biasanya yang saya temukan adalah kisah cinta yang memenangkan jumlah porsi pada Saya suka mendengar dan melihat dunia musik klasik, walau belum sampai taraf ingin mencari tahu atau mempelajarinya. Mungkin itu sebabnya saya yang biasanya sebal menemukan banyak footnote dalam novel, justru menikmatinya. Hal kedua yang membuat saya menyukai novel ini adalah kisah persahabatan di dalamnya. Tidak banyak novel (yang saya baca) mampu mempertahankan konsistensi porsi persahabatan hingga akhir cerita. Biasanya yang saya temukan adalah kisah cinta yang memenangkan jumlah porsi pada akhirnya. Pada bagian kedua, saya agak susah membedakan POV antara Davina dan Armitha (tapi tidak mengganggu) karena pada bagian tersebut saya menemukan narasi yang seharusnya 'milik' Davina pada bagian Armitha. Mungkin penulisnya khilaf, hahaha :P. Tapi seperti yang sudah saya tulis; tidak mengganggu. Anyway saya sungguh menyukai ketiga tokoh utamanya. Tidak ada tokoh menyebalkan di sini :).

  14. 5 out of 5

    Charlotte clara

    ike I told before, from the start to the end this book is melancholic yet so real. Ada 2 tokoh utama di sini, sahabat yang ditakdirkan untuk menjadi dekat, jauh, bermusuhan, dan saling menyayangi. Pusat mood buku ini ada pada DAvina, namun di bab-bab akhir akhirnya aku pembaca tidak akan memihak mana sahabat yang terbaik diantara keduanya. Tidak ada antagonis di sini, yang ada hanyalah hati yang terbagi. Cinta segitiga memang tidak pernah habis untuk dibahas namun luar biasanya cinta segitiga disini ike I told before, from the start to the end this book is melancholic yet so real. Ada 2 tokoh utama di sini, sahabat yang ditakdirkan untuk menjadi dekat, jauh, bermusuhan, dan saling menyayangi. Pusat mood buku ini ada pada DAvina, namun di bab-bab akhir akhirnya aku pembaca tidak akan memihak mana sahabat yang terbaik diantara keduanya. Tidak ada antagonis di sini, yang ada hanyalah hati yang terbagi. Cinta segitiga memang tidak pernah habis untuk dibahas namun luar biasanya cinta segitiga disini tidak membuatku memihak siapa yang lebih baik dari siapa. Settingnya yang berada di negara2 dimana musik klasik berada, membuatku seakan begitu dekat dengan musik klasik *kayak gw tau aja* sedikit mengingatkan pada nodame,namun di lembar ode to joy jga dicantumkan bahwa penulis terinspirasi pada Nodame Cantabile. No wonder why. Brilliant works!

  15. 4 out of 5

    Just_denok

    Aku suka. Aku suka cara penulis bercerita. Cerita yang kompleks. Persahabatan, mimpi, cinta, obsesi, and all. Porsi ceritanya pun pas. Aku bisa ngerasain jatuh cinta, kecewa, marah, bimbang, dan rasa bersalah. Hatiku melebur oleh perasaan yang dialami Davina dan Armitha. Ada proses yang benar2 bisa aku nikmati d novel ini. Good, good, good...:D Tidak sabar untuk menunggu karya2 penulis selanjutnya. Sayang banget di belakang nggak ada bio nya penulis. Aku penasaraaaan.:)) Dan jujur novel ini Aku suka. Aku suka cara penulis bercerita. Cerita yang kompleks. Persahabatan, mimpi, cinta, obsesi, and all. Porsi ceritanya pun pas. Aku bisa ngerasain jatuh cinta, kecewa, marah, bimbang, dan rasa bersalah. Hatiku melebur oleh perasaan yang dialami Davina dan Armitha. Ada proses yang benar2 bisa aku nikmati d novel ini. Good, good, good...:D Tidak sabar untuk menunggu karya2 penulis selanjutnya. Sayang banget di belakang nggak ada bio nya penulis. Aku penasaraaaan.:)) Dan jujur novel ini membuatku merasa terobati, mengingat akhir2 aq merasa sedikit kecewa dg novel metropop lain yg baru2 terbit. Tapi serius yaaa, novel ini recommended banget utk dinikmati :). Enjoyable banget..Hihi..

  16. 4 out of 5

    Yuliana Permata Sari

    permainan piano dari pianis idola saya. :) Begitu baca kisah anak SMA, agak berasa males juga sih bacanya. Tapi si penulis berhasil membuat saya terikat untuk menyelesaikan buku ini dengan menyajikan sudut cerita dari dua tokoh yang bersahabat, tapi dalam hati mereka ada rasa iri dan kagum yang hanya mereka simpan sendiri. Davina si gadis baik yang pendiam, Armitha si gadis ceria dan periang, dan si pangeran kita, Awang. Semua beawal ketika Awang ingin megenal Armitha lebih dekat dan dia meminta permainan piano dari pianis idola saya. :) Begitu baca kisah anak SMA, agak berasa males juga sih bacanya. Tapi si penulis berhasil membuat saya terikat untuk menyelesaikan buku ini dengan menyajikan sudut cerita dari dua tokoh yang bersahabat, tapi dalam hati mereka ada rasa iri dan kagum yang hanya mereka simpan sendiri. Davina si gadis baik yang pendiam, Armitha si gadis ceria dan periang, dan si pangeran kita, Awang. Semua beawal ketika Awang ingin megenal Armitha lebih dekat dan dia meminta Davina membantunya berkenalan dengan Armitha. read more --> http://thelittlepresent.blogspot.com/...

  17. 5 out of 5

    Rie_dominique

    Davina dan Armitha sudah bersahabat sejak masuk SMA. Yang satu adalah gadis cantik pendiam, kutu buku dan memegang peringkat pelajar terbaik di sekolah. Yang satu lagi lebih terbuka, emosional dan terang-terangan, selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Kemudian Awang datang. Dengan terang-terangan Awang meminta Davina mengenalkannya kepada Armitha, karena ia naksir dengan cewek yang angkuh dan judes itu. Tetapi karena sering bercerita kepada Davina itulah, Awang pun menyadari kalau ia jatuh Davina dan Armitha sudah bersahabat sejak masuk SMA. Yang satu adalah gadis cantik pendiam, kutu buku dan memegang peringkat pelajar terbaik di sekolah. Yang satu lagi lebih terbuka, emosional dan terang-terangan, selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Kemudian Awang datang. Dengan terang-terangan Awang meminta Davina mengenalkannya kepada Armitha, karena ia naksir dengan cewek yang angkuh dan judes itu. Tetapi karena sering bercerita kepada Davina itulah, Awang pun menyadari kalau ia jatuh cinta kepada Davina. full review lihat disini

  18. 5 out of 5

    indah

    Well, this is the most realistic metro pop I've ever read. Not because it's gloomy story line nor the conflict about friendship so on and so far. However it's about how Novellina A can fullfill my expectations about the story of persons throughout years, mind-hearted conflict and also dream catcher. The dialogue between each persons in this novel brings me up that a sarcasm can be beautifully presented in the dialogue between those main roles and enjoyed. Also there are lots of information about Well, this is the most realistic metro pop I've ever read. Not because it's gloomy story line nor the conflict about friendship so on and so far. However it's about how Novellina A can fullfill my expectations about the story of persons throughout years, mind-hearted conflict and also dream catcher. The dialogue between each persons in this novel brings me up that a sarcasm can be beautifully presented in the dialogue between those main roles and enjoyed. Also there are lots of information about classic music I've never seen in some novels which brought up the same ideas of classic musician. Overall, this novel is like a fresh water in the mud-dry-river of story books for me.

  19. 4 out of 5

    Mikhaela Saragih

    berbeda dengan metropop lain, Fantasy menawarkan mimpi, idealisme dan travelling lagipula covernya menarik dan eye ctaching. Untuk karakter di masing-masing novel sangat berbeda, dan diakhirnya akan ada twist dimana awalnya saya sangat membenci karakter A berubah menjadi mengasihininya. So Far, it is great book!

  20. 4 out of 5

    ayanapunya

    meski ceritanya masih sedikit berlubang dan karakter tokoh utamanya kurang kuat, namun novel ini tetap menarik untuk diikuti. terlebih dengan tema musik klasik yang dibawanya. salut deh buat penulis yang berhasil memberikan info2 baru pada sya lewat novelnya.

  21. 5 out of 5

    Yenny

    Buku yang berbeda dan sangat indah untuk di baca!

  22. 5 out of 5

    Arum

    very romantic. good story. love the happy ending.

  23. 5 out of 5

    Flowedelweiss

    Banyak yang diskip karena lebih suka interaksi antara Awang dan Vina aja. Selebihnya menarik tapi narasinya kepanjangan dan terlalu mendetail. Diksinya ala novel terjemahan.

  24. 4 out of 5

    Hidya Nuralfi Mentari

    Ada banyak hal yang kepingin aku tulis tentang buku ini. But, next time, maybe. Semoga bisa membuat review lengkapnya :)

  25. 5 out of 5

    Cinthya Yuanita

    Review selengkapnya dapat dilihat di halaman blog http://orkestraksara.wordpress.com/20... :)

  26. 4 out of 5

    Rain

    si Mitha bener-bener yaa haha

  27. 4 out of 5

    Mayang Dwinta Trisniarti

    Fantasy adalah novel yang berada di urutan agak mikir sampai nggak mikir sama sekali. Dengan sampul elegan ala-ala musik klasik dan gambar piano, novel ini langsung menggambarkan isi keseluruhan ceritanya. Satu hal yang selalu saya tahu. Saya nggak terlalu suka novel yang isi dialog antar pemainnya bilingual 50:50. Saya suka novel yang 100% Bahasa Indonesia atau English sekalian. Atau kalau butuh menyisipkan kutipan dan percakapan dwibahasa, usahakan ada bahasa yang utama. Fantasy ini bahasanya Fantasy adalah novel yang berada di urutan agak mikir sampai nggak mikir sama sekali. Dengan sampul elegan ala-ala musik klasik dan gambar piano, novel ini langsung menggambarkan isi keseluruhan ceritanya. Satu hal yang selalu saya tahu. Saya nggak terlalu suka novel yang isi dialog antar pemainnya bilingual 50:50. Saya suka novel yang 100% Bahasa Indonesia atau English sekalian. Atau kalau butuh menyisipkan kutipan dan percakapan dwibahasa, usahakan ada bahasa yang utama. Fantasy ini bahasanya campur-campur, jadi saya kurang menikmati jalan ceritanya. Melihat banyak banget kutipan yang saya dapatkan dari buku ini, saya bisa menyimpulkan kalau buku ini adalah buku novel yang semi-motivasi. Alurnya maju dan mundur. Tapi bagian mundurnya kadang nongol nggak dikasih peringatan atau sekat. Kalau nggak fokus, bacanya bisa etrkesan lompat-lompat. Di sini saya paling suka dengan karakter Bryan. Karakter kunci yang menyadarkan keruwetan karakter lainnya.

  28. 5 out of 5

    Afifah

    Cukup suka dengan jalan cerita dan kompleksitas karakter Vina serta Mitha. Tapi sayangnya aku terlalu sering bingung dengan timeframe serta 'arti' dari sikap 2 karakter tersebut sehingga at the end hanya bisa memberikan buku ini 3.5 bintang saja.

  29. 4 out of 5

    Najwa Shufia

    3.5 stars

  30. 5 out of 5

    Titish A.K.

    Hmmm, semakin bagus sebuah novel memang semakin susah di-review ya? :)) Oke, mari kita mulai dari hal yang saya suka dulu. . Novel ini bukan novel pertama yang mengangkat tema musik klasik, tetapi ini novel tentang musik klasik pertama yang sukses membuat saya “peduli” dengan tema itu. Saya sendiri kurang familier dengan musik klasik. Kalau dengar pun seringnya berupa interpretasi modern ala Depapepe. Saya jadi mengamini apa yang ditulis di kata pengantar: bagi orang biasa, musik klasik seperti Hmmm, semakin bagus sebuah novel memang semakin susah di-review ya? :)) Oke, mari kita mulai dari hal yang saya suka dulu. . Novel ini bukan novel pertama yang mengangkat tema musik klasik, tetapi ini novel tentang musik klasik pertama yang sukses membuat saya “peduli” dengan tema itu. Saya sendiri kurang familier dengan musik klasik. Kalau dengar pun seringnya berupa interpretasi modern ala Depapepe. Saya jadi mengamini apa yang ditulis di kata pengantar: bagi orang biasa, musik klasik seperti mal kalangan atas bagi kaum marginal. Tetapi, demi lebih bisa memahami cerita, saya “mau” membuka YouTube dan mendengarkan beberapa komposisi yang disebut dalam novel. Dalam hal ini, Mbak Novellina sudah berhasil memperkenalkan musik klasik bagi kalangan bawah kayak saya :P . Ini novel debut, tetapi sudah cukup bagus. Dan artinya, ada satu lagi penulis potensial yang novel-novel berikutnya bisa saya nantikan :) Sebenarnya novel ini cenderung puitis dan saya bukan termasuk penggemar fiksi dengan cara bertutur seperti itu, tetapi novel ini toh bisa saya nikmati. Nah, biasanya sih novel yang bisa saya nikmati (novel debut pula) bakal saya kasih 4 bintang. Namun, 1 bintang terpaksa saya tahan karena rasanya masih ada beberapa hal yang kurang sreg di hati, misalnya: . Novel ini dikisahkan dari dua sudut pandang, Davina dan Armitha. Tapi, serius deh, kalau nggak ditulis keterangan di tiap pergantian sudut pandang, rasanya kok saya bakal kesulitan membedakan. Bagi saya penuturan mereka terasa masih “senapas”. Perbedaan karakter mereka, bahwa Mitha itu periang, ceplas-ceplos, judes, sementara Davina lebih pendiam dan kecewek-cewekan kurang tergambarkan dengan jelas. . Di awal disebut kalau Awang ini suka gangguin adek kelas, laksana bad boy yang nyamperin Davina pun ditemani “dayang-dayangnya” (yang kemudian nggak pernah disebut lagi), perawakannya juga cenderung besar sehingga seperti beruang cokelat. Gampangnya, saya tinggal mengasosiasikan seseorang di kehidupan nyata saya dengan ciri-ciri seperti itu sebagai Awang. Makin ke belakang gambaran ini makin nggak cocok dan prangg~ pecahlah gambaran “asosiasi Awang” di kepala saya. Saya jadi merasa karakter Awang kurang konsisten. . Tertahannya rating 1 bintang dari novel ini terutama ketika bacaan saya masuk hlm. 213. Dari awal saya berharap novel ini menjadi novel-bagus-tanpa-tokoh-antagonis, tetapi harapan saya rupanya tidak terkabul. . Hlm. 206: Mitha ini sudah jadi Parisian (dengan visa belajar?), apa benar perlu mengurus lagi Schengen visa untuk pergi ke Jerman? . Belakangan Mitha cacat karena kecelakaan, tetapi sewaktu jalan-jalan bertiga di Wina dengan Awang dan Brian (hlm. 250) tidak disebutkan cara Mitha berjalan. Apa dia kelelahan berjalan dengan kruk? Atau malah didorong dengan kursi roda oleh Awang dan Brian? Padahal Mitha bisa berjalan tanpa kruk jauh setelah itu (disebut dalam suratnya untuk Davina, hlm. 303). . Typo nggak banyak, tapi ya tetap ada: (Hlm. 56) “Sudah-sudah. Ayo masuk … >> “Sudah, sudah. Ayo masuk … (Hlm. 58) Valentina >> Valenntina (Hlm. 126) mensejajarkan >> menyejajarkan (Hlm. 135) ” … now” >> ” … now.” (Hlm. 140) kebanggan >> kebanggaan (Hlm. 145) carut marut >> karut-marut (Hlm. 149) 1500 >> 1.500 (Hlm. 155) Orang ini suka joging malam-malam. >> Orang sini suka joging malam-malam. (Hlm. 171) mengikut kompetisi >> mengikuti kompetisi (Hlm. 174) keterjutanku >> keterkejutanku (Hlm. 196) 1600 >> 1.600 (Hlm. 207) sang idol >> sang idola (Hlm. 280) perasaannnya >> perasaannya (Hlm. 310) sekerang >> sekarang Ditunggu novel selanjutnya, Mbak Novellina :)

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.